Sebuah Renungan

Suatu hari, ada seorang anak SD di suatu tempat yang teramat cerdas dan pandai. Saking pandainya terkadang dia tidak perlu mendengarkan sang guru menjelaskan materi yang disampaikan.Akan tetapi, setiap orang tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan anak ini. Meski ia memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, ia termasuk anak yang nakal di sekolahnya. Terkadang, ia suka menjahili teman-temannya sampai mereka menangis, mengejek anak yang kurang mampu, mencoret-coret tembok kelas dengan spidol dan lain-lain. Ia sudah berkelakuan demikian sejak kelas 2SD ketika ibunya meninggal, jadi tinggallah ayahnya yang merawatnya. Namun, seperti halnya anak biasa, kasih sayang seorang ibu sangat penting melebihi siapa pun, karena ibu lah yang mengajari semua hal dasar yang perlu dikembangkan oleh anaknya. Kasih sayang ayah memang penting, namun apakah ayah pernah mengajari bagaimana berperilaku, apakah ayah yang memarahi putranya ketika ia berperilaku nakal? mungkin iya. Tapi masih saja, ibu yang terpenting. Seperti itulah perumpamaan anak yang nakal tersebut. Karena kurangnya kasih sayang dari ibunya,ia jadi bertindak sesuka hati. Sampai suatu saat, anak itu menginjak kelas 5SD. Betapa kagetnya dia, mengetahui bahwa wali kelasnya adalah orang tua yang hampir pensiun. Ia begitu kesal acap kali melihat orang tua tersebut memberikan materi pelajaran karena terkesan terlalu lamban. Akhirnya ia mendapat ide untuk mengerjai sang guru, dengan harapan agar si guru diganti dengan orang lain yang dianggapnya lebih muda. Sebelum pelajaran dimulai pukul 7.00 , anak tersebut datang pagi-pagi sambil membawa lem kayu ke kelas. Ia mencampur lem tersebut dengan pasir dan menaruhnya di bangku sang guru. Karena sang guru tidak begitu memperhatikan keadaaan sekelilingnya, ia dengan biasa duduk di bangku tersebut dan merasa mengganjal. Yah, memang benar, celana yang dikenakan guru tersebut penuh lem dan pasir. Si anak tertawa kegirangan dengan bangganya karena berhasil mengerjai guru tersebut. Kemudian sang guru berdiri dan berkata, "maaf anak-anak bapak tidak bisa mengajar hari ini, jadi hari ini kalian belajar sendiri ya, celana bapak kotor karena tadi sewaktu berangkat ke sini, bapak terjatuh di genangan air bekas hujan semalam". Dengan heran, si anak melihat gurunya. Mengapa ia mengaku bahwa terjatuh dan tidak mengatakan bahwa ada seseorang yang menaruh lem di kursi tempat dia baru saja terkena jebakan. Ketika sang guru beranjak keluar, sang anak lantas berlari mengejarnya . Di luar kelas, ia menanyakan perihal tersebut kepada sang guru,"kenapa bapak tadi tidak memarahi anak yang mungkin telah berbuat jahil demikian?"
sang guru menjawab,"bapak memaafkanmu, bapak sudah tahu ini perbuatanmu, banyak bapak-ibu guru yang membicarakan kamu. Kamu anak yang pintar, kamu pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk."
Semenjak saat itu sang anak jadi tersentuh, dan berjanji tidak akan nakal lagi. Tapi karena ia terlalu dini untuk mengucapkan janji, seperti biasa, ia tetap berbuat jahil. Pernah ia menyobek buku temannya hanya karena temannya mencontek PR anak tersebut. Ia sering kali dipanggil menghadap guru BP. Akan tetapi, sang guru wali kelas 5 selalu datang dan memohonkan maaf kepada guru BP.
Ia kemudian berjanji pada gurunya bahwa ia tidak akan nakal lagi, sang guru dengan belas kasih memaafkannya.
Suatu hari sang anak naik ke kelas 6, ia terlibat permasalahan lain, ia kepergok merokok oleh wali kelas 6 nya yang baru, di belakang kelasnya. Sambil marah, ia menjewer anak tersebut dan membawanya ke BP untuk ke sekian kalinya lagi. Di sana, ia dibentak-bentak oleh wali kelasnya dan mendapat ceramah dari guru BP. Ia kemudian lari mencari sang guru kelas 5 dan minta maaf. Dengan ikhlas, sang guru kelas 5 menemui wali kelas 6 dan memohonkan maaf untuk anak tersebut.
Sekali lagi, anak tsb minta maaf pada guru kelas 5 nya dan berjanji tidak akan nakal lagi.
Karena guru kelas 6 nya masih tergolong muda dan kurang pengalaman mengajar, beliau hanya terpacu pada buku. Suatu hari ia menyuruh si anak untuk belajar sendiri di perpustakaan karena ia memukul temannya di kelas. Dengan kesalnya,si anak berangkat ke perpustakaan. Di sana, ia masih merasa jengkel karena apa-apa buku. Lalu, terlintas kenakalan di benaknya. Ia berencana membakar buku di perpustakaan dengan korek yang biasa ia bawa untuk membakar rokok. Ia berpikir bahwa ia tidak perlu ragu atau takut karena jika ia dimarahi, ia tinggal menemui guru kelas 5 nya dan dimohonkan maaf pada guru BP. Dan ternyata benar, ia menyulutkan api ke beberapa buku. Akan tetapi, siapa yang tahu? Bahwa api yang membakar buku tersebut tiba-tiba menjadi besar dan besar. Anak tersebut berteriak,"kebakaran kebakaran !" dan lari keluar. Begitu juga orang-orang lain yang ada di perpustakaan. Perpustakaan yang tadinya tenang dan sunyi menjadi begitu ribut karena kobaran api yang menyambar.
Anak tersebut menangis, ia menyesal. Ia dibawa ke BP karena perbuatannya sudah terlampau batas. Ia memohon maaf kepada semua orang di sekolah. Ayahnya yang bekerja di luar kota pun, harus dipanggil ke sekolah untuk mempertanggung jawabkan semua kenakalan si anak.
Tapi kali ini berbeda, si anak tidak mengadu ke guru kelas 5 nya dan memohonkan maaf kepada guru BP atas kesalahannya yang satu ini. Kini ia begitu menyesal dan berjanji tidak akan nakal lagi karena sang guru telah tiada, beliau meninggal bersamaan dengan kebakaran yang terjadi di perpustakaan akibat perbuatannya.

Category:

0 komentar :

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak maka anda akan disegani dan dihormati. Terimakasih sudah menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti.

Diberdayakan oleh Blogger.