Sand without you is no more beaches than am I without sea

Sabtu kemarin, akhirnya kami memutuskan tetap untuk melanjutkan rencana awal biarpun terik matahari nampaknya tak muncul memenuhi harap setelah selama dua hari sebelumnya Jogja dilanda panas.

Tak ada yang spesial, aku dengan sisa bangku kosong di motorku dan sepupuku bersama pacarnya mengendarai duo matic ke puncak gunung kidul. Sesampainya di daerah Wonosari, hujan lebat mengguyur kami yang dengan cekatannya kami segera berhenti dan mengenakan jas hujan. Ah jadi teringat, ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan (cukup) jauh dengan jas hujan jenis baju dan celana, mengingat sebelum-sebelumnya jenis yang kukenakan adalah model Batman. Tapi, bukan itu intinya, dulu aku tidak sendiri, jadi jas batman itu sangat kubutuhkan. Tak sama lagi dengan yang sekarang, jas itu sudah tak gunakan lagi.

Kembali ke perjalanan, beberapa kali kutanya sepupuku apakah kita masih akan melanjutkan perjalanan, dan jawabannya masih sama, "tanggung sudah sampai sejauh ini".

Singkat cerita, kami pun sampai di pantai dengan cuaca yang masih hujan gerimis namun dengan kepadatan hujan yang tinggi disertai awan yang masih gelap. Tempat ini, mengingatkanku lagi dengan masa-masa itu, meskipun bukan tempat favoritmu, karena pantai yang kami tuju ke arah barat. Biarpun begitu, kita dulu pernah singgah di sini juga.



Alhasil karena masih hujan, dan jam menunjukkan pukul 14.30 (perjalanan yang cukup lama, karena seingatku kami berangkat pukul 11.30), kami memilih berteduh dan meneguk minuman panas untuk menghangatkan tubuh. Di samping itu, mengingat saat itu hari Sabtu, terdapat cukup banyak pengunjung yang ada di sana. Sebagian dari mereka duduk-duduk di motor, di warung, di gubuk-gubuk yang ada di dekat pantai dengan wajah kecewa mungkin karena hari itu seharusnya jadi hari yang menyenangkan bagi mereka, tapi sayang hujan masih juga belum reda yang menghambat mereka tuk bermain air.

Dari warung yang kami singgahi, nampak banyak orang yang tetap mandi dan mainan air di pantai, ada juga yang bermain pasir. Setelah aku merasa cukup hangat, langsung saja kuajak sepupuku bermain air. Ternyata tidak seburuk yang terlihat, biarpun masih hujan gerimis, hal itu tidak mengurangi sedikitpun keelokan pantai gunung kidul. Setelah main di pantai sekitar 40menit, kami memutuskan untuk cari makan siang, sebenarnya perut kami memang sudah lapar sejak perjalanan jauh disertai hujan tadi.

Di sinilah cerita spoof nya. Kami memilih warung yang menyediakan nasi. Di sana sudah terlihat beberapa pengunjung yang makan secara prasmanan. Aku berlalu duluan, diikuti pacar sepupuku, nampaknya sepupuku yang bertugas menjaga barang bawaan kami selama yang lain mengambil makan di meja prasmanan. Dengan segeranya kuambil piring, mengambil nasi, dan kulihat ada ayam goreng yang lumayan banyak. Alhamdulillah, dalam hati kubersyukur ada makanan yang sangat ingin kunikmati setelah berendam di pantai dengan kondisi kedinginan. Baru selesai mengambil sayur, seorang ibu-ibu tiba-tiba nyeletus kepada yang jaga, "Loh mbak-mbak, dia ini (sambil menunjuk ke arahku) bukan rombongan kami loh". Whaaaat?
Mbak pemilik warung pun melirikku, lalu kujawab, "Waduh terus ini gimana nasinya? Sudah terlanjur ambil". Alhamdulillah (lagi) ada bapak-bapak yang sepertinya rombongan mereka melakukan Face saving act (jadi ingat tugas linguistikku belum selesai -_-) dengan mengatakan, "Sudah-sudah ngga papa, ngga papa". Selanjutnya, ibu pemilik warung tadi mengajakku ke dapur, dan menunjukkan lauk yang tersisa. Yah hanya tersisa ikan, tapi tak apalah, daripada aku menanggung malu... huffftt..

Kulihat pacar sepupuku yang tadinya juga hendak ambil nasi, sudah duduk di samping sepupuku. Mereka tertawa melihatku yang konyol banget. Ah, mana aku tahu kalau hidangan itu merupakan pesanan suatu rombongan keluarga? Setelah kutanya, sepupuku beserta pacarnya akhirnya memesan nasi goreng. Sedang aku? Sudah selesai makan ketika pesanan mereka belum lama tiba, dan saat itu, dari kelompok rombongan tadi, kudengar ibu-ibu mengatakan, "Wah, makanannya pas, tidak lebih tidak kurang." Karena masih mengingat logatnya, sepertina itu adalah ibu-ibu yang tadi nyeletus dengan sengata mengucapkan hal itu untuk menyindirku yang mengambil 'jatah' nasih mereka. Asem banget. Aku juga nanti bakal bayar bu, tenang saja. -_-.. Setelah itu, aku pun minta ijin untuk mandi dan sholat duluan.

Singkat cerita. Kami melakukan perjalanan pulang dari pantai sekitar pukul 16.30. Oh iya, saat itu sudah tidak hujan lagi. Oleh karenanya aku sempat mengambil gambar pantai di atas (kuambil di warung tempat kami makan).

Di perjalanan pulang. Karena jalanan cukup padat, mengingat hari Sabtu merupakan hari yang biasanya dihabiskan untuk berlibur, kami hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimal 30KM/jam. Cukup pelan. Bahkan terlalu pelan sehingga mengingatkanku dan membangkitkan cuplikan-cuplikan masa lampau tentang perjalanan pulangku dulu bersamamu. Setiap sisi jalannya kuperhatikan, pepohonannya, belokannya, sawahnya, pemandangan bukitnya, semuanya masih sama dengan yang kala itu. Bagaimana mungkin tidak, aku berusaha mengalihkan pikiranku ke hal-hal lain. Perasaan ini terasa sangat hambar, namun semua memori itu dengan jelasnya tergambar. Akupun kalah, tak bisa mengalihkan pikiranku ke hal lain dan tak bisa pula kumenafikan bahwa aku masih mengingat semuanya pada perjalanan pulang ini. Karena hal ini menggangguku, aku jadi memikirkan suatu ungkapan yang berbunyi, Sand without you is no more beaches than am I without sea atau mungkin ungkapan yang lebih tepat adalah Sand without sea is no more beaches than am I without you.
Oh iya, hampir lupa. Kala itu aku memutuskan untuk mengambil rute yang sedikit berbeda hingga akhirnya mengantarkan kami ke arah pantai-pantai yang lain seperti kukup, Baron, Sepanjang, Kerakal dll, yang nampaknya cukup indah juga (bagiku). Tapi aku yakin, favoritmu pasti takkan tergantikan. Hal itu yang menjadi dasar bahwa aku takkan mungkin mengajak teman-teman atau saudaraku ke pantaimu karena pasti rasanya akan sangat berbeda. Selain itu, aku pasti takkan henti-hentinya mengingat semuanya lagi.

Dan sudah kuputuskan, piknik Sabtu kemarin adalah piknik terakhirku. Aku akan fokus ke kuliahku dan Inshaallah karirku untuk bisa menyegerakan ucapan yang dulu sudah sering keluar dari mulutku yang terikat dengan suatu hukum, atau orang menyebutnya dengan kata 'janji'.

Read more


Finishing process. . . Currently 70% built

Harus diakui, sepertinya ada orang yang lebih visioner dari aku, tentunya di kalangan orang-orang yang kita kenal. Apalah gunanya membahas orang yang tak kita kenal jika tidak ada kaitan dengan urusan ini.


Sebelum mengarah ke pembahasan utama, alangkah lebih baiknya jika ada kalimat-kalimat pengantar yang memulai terlebih dahulu untuk memperjelas maksud yang nanti akan disampaikan lewat penjelasan yang menurutku cukup rumit.


Sekitar sebulan yang lalu.. tak sengaja, pada pertemuan kita, kulontarkan satu hal yang sebenarnya spoiler bagimu. Padahal hanya satu kalimat saja yang bahkan mungkin bukan sebuah kalimat utuh dengan struktur lengkap yang terdiri atas; S-P-O-K, tapi  hanya memuat beberapa kata. Akan tetapi, saat itu beruntunglah aku karena kau potong ucapanku, yang menjadi sebab aku tidak memberi informasi lebih banyak. Namun hari ini, rasanya sudah cukup kalau kubeberkan lebih banyak tentang hal yang dulu sempat akan terbahas.

Mungkin sekarang bisa dimulai dari kalimatku dulu yang langsung kau potong. Jangan penasaran, ini bukan ucapan yang bermakna mendalam sehingga harus memutar otak dan memuat memori lama untuk bisa memahaminya. Ucapanku kala itu adalah, "Di rumahku lagi ada tukang". Lalu bagian mana kau memotongnya? Sebenarnya bukan memotong, tapi langsung merespon lebih tepatnya, dengan mengatakan, "Tukang Lagi?" seraya melontarkan senyum menertawakan karena ini bukan hal pertama bagimu mendengar adanya tukang di rumahku yang muncul saat rumahku direnovasi atau ada penambahan di bagian sana dan sini.

That's it?

Yup. That's it.
Kiranya bisa aku cukupkan kalimat pengantar di atas yang hanya terdiri atas beberapa baris saja. Kembali ke pokok bahasan tentang orang yang memiliki pemikiran visioner yang melebihiku.
Siapakah dia?
Sangat-sangat sederhana, dia juga orang yang telah kau kenal, ibuku.
Lantas pemikiran apa yang bisa dianggap visioner?

Kiranya sekarang kau mungkin bertanya-tanya atau sedang menebak. Itupun kalau kau saat ini memutar otakmu yang senantiasa kau beri asupan gizi dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Jika kau menghubungkan dengan given information, kau mungkin bisa sedikit menebak apa yang akan kukatakan. Tentu saja ini ada kaitannya dengan kalimat pengantar di atas dan juga dengan judul tulisan ini.
Ah tak usahlah berpanjang lebar, toh juga maksudku memang ingin membeberkannya.

Tukang yang ada di rumahku (yang kerjanya telah dimulai saat perbincangan kita itu hingga hari ini dan masih akan terus berlanjut), dulu mengerjakan sebuah penampung air (water pam), kami akhirnya benar-benar melaksanakan saranmu dulu. Setelah selesai, ibuku meminta tukang tadi untuk mengerjakan pekerjaan lain. Kiranya apa yang dikerjakan tukang tadi?

Coba hubungkan kata-kata berikut..

Tukang - Pemikiran Visioner - ibuku - spoiler/bocoran

Kuberi waktu 10 hitungan untuk skroll ke bawah

10 (Sepuluh)
.
.

9 (Sembilan)
.
.
8 (Delapan)
.
.
7 (Tujuh)
.
.
6 (Enam)
.
.
5 (Lima)
.
.
4 (Empat)
.
.
3 (Tiga)
.
.
2 (Dua)
.
.
1 (Satu)

Selesai. Waktu habis...

Jawabannya adalah...


Tak terlihat jelas mungkin, tapi itu usaha terbaikku untuk mendapatkan gambarnya. Ibuku meminta tolong kepada pak tukang untuk membangun dua kamar yang letaknya di belakang terpisah dengan bangunan rumah utama. Terlihat kecil ketika masuk HP, tapi kenyataannya agak lebih besar.

Mengenai visioner tadi.
Sebenarnya tujuan dibangunnya kamar tersebut adalah untuk mempersiapkan kamar bagi anak dan menantunya, yang tidak lain dan tidak bukan serta Inshaallah adalah dirimu. Ibuku mampu memahami dan menyadari kalau aku belum mampu untuk membelikanmu atau mendirikan rumah sendiri hingga ia harus turun tangan. Bayangkan saja, rumah yang saat ini kutempati pun sebenarnya belum lama jadi. Ketika aku balita, rumah kami hanyalah sekotak yang ada di bagian depan itu (yang belakangnya ke kamar mandi), dan belakang hanya ada sawah yang membentang luas. Oleh sebab itu, ibuku bisa maklum kalau untuk mendirikan/membeli rumah memang butuh waktu yang mungkin bisa cukup lama.

Lantas kenapa lokasinya harus di belakang rumah bahkan terpisah dari rumah utama?
Bukankah aku sudah memiliki kamar? Atau bagaimana dengan lantai 2?

Pertama, kamar yang aku tempat terlalu kecil kalau untuk ditinggali berdua. Apalagi mungkin besok kita akan memerlukan meja rias dan hal lainnya

Kedua, Kenapa tidak lantai 2? Aku sempat berpikir demikian juga, namun setelah kupikir, lantai 2 kurang menyenangkan. Alasannya? Ada di nomor empat.

Ketiga, bagian belakang rumah masih tanah kosong, sayang kalau hanya digunakan untuk menimbun barang bekas, jadi dimanfaatkan dengan dibangun dua kamar.

Keempat, Ketika lokasinya di belakang dan terpisah dari rumah utama, Inshaallah akan menciptakan romantisme. Misalnya, tidak perlu khawatir kalau saat kita bersenda gurau atau tertawa, mengoceh dan lain sebagainya, akan terdengar oleh orang rumah. (Bahasa sederhananya, tidak akan merasa tidak enak untuk rame dan juga tidak akan terganggu oleh orang rumah :D)

Bayangkan kalau di kamarku, sempit. Kalau di lantai 2, kita akan berhati-hati saat berbicara, senda gura, bercerita agar tidak mengganggu dan berisik. Tapi, ketika lokasi di belakang plus terpisah, mau tertawa terbahak-bahak pun tak masalah. :D

Ah, dia memang membuatku kagum dengan pemikiran visionernya. Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang cukup untuk keluarga kami sehingga mampu mendirikan 2 kamar ini.

Oh iya.. Mungkin terbelit 1 pertanyaan. Kenapa harus 2 kamar? Bukankah bisa dijadikan satu saja?

Aku dulu juga berpikir demikian. Lagi-lagi aku dibuat kagum olehnya. Ibuku menjawab pertanyaanku, "Ya besok kalau keluarga pasanganmu pada datang kan bisa punya tempat tinggal juga, selain di bekas kamarmu (kamar yang aku tinggali saat ini), masih ada ruang di lantai dua, dan masih ada 1 kamar lagi di sebelah kamarmu sama kamar istrimu (yang saat ini juga masih dibangun)".

Ah pemikiranmu visioner, ibu. Semoga kita senantiasa dipermudah oleh Allah. Aamiin.

Read more


I wasn't jealous, but now
every man I see is a potential threat.

Read more


Satu lagu untukmu (aku bukan pangeran) - Danar K. Nisa

Pernah iseng-iseng bikin lagu sewaktu masih SMA, kelas 3 kalau tidak salah.
Listen to it using headsets/headphone ^_^.

uuuu.. uuuu .uuuuuu

Bunga sayang ini untuk dirinya
hanya untuk si dia aaa~
Kan kurawat selalu, bersama dia
agar bunga tak jadi layu lagi..

Kasih hati ini teroleh (teruntuk) padanya
hanya pada dirinya aaa~
Kan kucipta satu syair untuk dirimu
satu lagu untukmu 'kan buatmu senang

Na na na
Na na na
Satu lagu untukmu 2x

Kan kubawa dirimu ke istanaku
untuk melihat indahnya taman bungaku
Kan kujemput dirimu
dengan kuda putihku
oh lengkaplah sudah dengan sebuah kencana

Ku~bawa dirimu ke istanaku
untuk menjadikanmu pengantin (pendamping) hidupku
Kan kuserahkan semua kerajaan hati
untuk melihat indah senyum di wajahmu

uuuu.. uuuu .uuuuuu 

Read more


Tunggu sebentar, biar kupahami dulu. . .

Musim penghujan kali ini agaknya cukup berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
Kalau diingat-ingat, memang ada satu hal yang dirasa hilang, setidaknya olehku.
Betul, hujan-hujan sepanjang hari akhir-akhir ini sudah tidak lagi terasa hangat.

Benar, tidak ada lagi masa-masa menanti sorot sinar matahari ke wajah kita,
dan dengan polosnya mengatakan, "akhirnya bisa lagi merasakan (hangatnya) sinar matahari".

Ada pengalaman dan ingatan yang tak bisa kuandaikan dalam khayal,
ada juga gemercik butir-butir air hujan yang mengguyur pandangan kita,
juga, yang menerpa wajahku
yang sebenarnya sudah terlanjur basah
oleh air mata yang kusembunyikan,
dan dengannya selalu saja kugunakan untuk berbohong,
dengan berkata "mataku basah karena hujan"
entah kau menyadarinya atau tidak kala itu,

Ah butir-butir tetesan air hujan, tak kunjung dewasanya kita usapkan,
meski tau ia pun tak mau kalah, sama seperti kita.
Tepat, ada sendaan di sela-sela dinginnya angin yang menembus dadaku.
ada gurauan, yang mengiringi kisah ini,
ada kita yang meyakinkanku 'tuk tetap melaju di jalan itu.

Dan benar, ada perubahan yang tak pernah siap kujalani.
Kau tahu?
Di dunia ini
masih ada hujan yang sama yang kita rasa bersama,
hujan yang tentunya persis dengan yang waktu itu
namun tak seawet, seperti yang pernah kusangkakan.

Read more


Masih Muncul Di Permukaan Lebih Dari 5x Sehari


Tak henti-hentinya mereka menyautkan kata itu,
tak lelah dan lupa pula mereka mengandaikan hal yang selalu ingin kudengar,

Dulu,
sejak saat itu*,
lalu,
kemarin,
hari ini
mungkin besok dan lusa?
Atau di lain hari?

nampaknya ia memang sudah hidup di sini,
di rumah ini,

2 suku kata yang tak bermakna bila terpisah..
-- yang ketika disandingkan menjadi memori sekaligus harap seorang aku..
-- dan ketika dilafalkan, mampu menguak ingatan akan masa depan.

Ah.Ingatkah kau?
Engkau sudah menaburkannya di setiap sudut dan sisi ini.
di setiap pojok dan pijakan bangunan ini..
di tempat yang tak mungkin kami dapati ketiadaannya.
Seperti biasa,
hari ini pun masih sama.
Ia muncul lima kali di permukaan, 
tentu di suatu ruang yang harapku...
menjadi tempat untuk menerimanya kembali.

Read more


Did you send me your shadow?

Hai.. ada banyak untaian kata (yang sebenarnya bukan puisi) untukmu. Tapi karena beberapa hal kucoba untuk menghentikannya..
Kali ini aku takkan berkata-kata dalam majas atau bahasa puitis atau apa lah. Melainkan akan kuceritakan padamu sesuatu yang terjadi padaku tepat hari ini..

"Did you send me your shadow?"

Ada yang menarik dan mungkin tertebak di sini..
Apa kau mencoba memberiku pesan melalui perantara bayanganmu?
Entahlah.. namun aku baru saja mendapatkannya, and that has made me shed my tears.

Kronologisnya seperti ini..
Entah karena urusan atau kasus apa (mengingat bahwa KKN baru saja berakhir)
, aku bersama seseorang yang postur tubuhnya hampir sama denganmu.. hanya berbeda bobot badan dan wajah saja. Yah dia sih yang lebih kurus.. dan wajahnya.. hemm.. tak bisa kuingat..
Dia juga bersandangan yang sama denganmu.. dan di saat itu juga, aku memikirkanmu.

Kejadiannya terjadi di malam hari... urusan/kasus tadi.. membawaku dengannya ke sebuah mini market. Dia membeli barang-barang yang dibutuhkan perempuan (entah untuk proyek KKN atau apa, aku tak bisa mengingat tugas yg kujalankan).. sedang aku hanya berjaga di luar..

dan seperti yang bisa ditebak..

You appeared just before my eyes...

Adrenalinku meningkat disertai kencangnya detak jantungku..
Kegelisahanpun menyelimuti, dan tanpa banyak pikir langsung kuhampiri dirimu perlahan..

Namun apa yang terjadi?
Kau lari... menjauh.. Tak putus asa, akupun mengejarmu..
terus mengejarmu..
hingga akhirnya kita berhenti dan aku memohon untuk berbincang sebentar..

Ku lagi-lagi dibingungkan dengan keadaan, kau tiba-tiba saja mengabulkan permohonanku dan berhenti.. aku memintamu untuk sejenak saja mampu berkata-kata empat mata denganku..

Baru ku hendak memulai perbincanganku denganmu, perempuan di mini market yang datang bersamaku tadi menghampiri kita berdua..
secara singkat, kukenalkan dirimu padanya.. seolah aku sudah pernah menceritakan hal-hal tentangmu dan tentang kita padanya..
Dan aku memintanya pergi dengan janji akan kususul (kemana? entah namanya saja hanya mengikuti alur)...

Akhirnya aku bisa berbicara denganmu...
Lagi-lagi sebelum aku mampu mengutarakan apa yang aku rencanakan untuk terucap.. kau mendahuluiku berbicara...
kau mengatakan,


"Ketika kita mundur atas cinta, baik seribu kata pun tidak akan bermakna lagi. Ketika kita maju (berjuang) karena cinta, 1 kata saja cukup untuk menghidupi".


Sentak saja, aku merasa menghirup napas panjang dan menghentikannya sejenak...
Seperti yang diduga, kau mengatakan hal itu padaku dengan wajah yang mengingatkanku pada suatu hal yang telah lalu dan dengan menepiskan sedikit senyuman yang bahkan tak mampu kuartikan langsung saat itu juga..

Dalam hitungan detik.. duniaku memudar dan memudar.. hingga akhirnya..
 aku.... bangun...

Dengan segera, kucari dan kuambil telepon genggam nokia ku, dan kutulis ucapanmu di dalam mimpi barusan dengan harap aku takkan melupakannya.. Save as draft... Itulah yang kulakukan.

Kucoba tuk menerka-nerka makna kalimatmu itu.. namun JUJUR.. aku belum mampu memahaminya..

Hingga akhirnya aku memutuskannya untuk menuliskannya di sini.. karena kutahu.. aku takkan mampu menceritakan hal ini padamu di dunia yang kita singgahi bersama.. dunia yang sama dengan keadaan kita berdua yang sudah jauh berbeda..

 Terbesit pertanyaan kecil kah dirimu?

"Lantas bagaimana kelanjutan mimpinya.. atau si perempuan yang tadi hendak aku susul?"


Entahlah, akupun tak tahu.. mungkin dia hanya sekedar karakter imajiner yang menjadi permulaan kejadian di mimpi untuk menghantarkanku pada pertemuan kita.. 
mungkin juga dia hanya figuran.. yang keberadaan atau ketidakadaannya tidak merubah makna cerita....

Tetap saja hal yang tak berubah adalah
.. kita berdua lah tokoh dan pemeran utama di mimpi-mimpiku..

Dan untuk kalimatmu yang tak kumengerti tadi... 
Haruskah aku menanyakannya padamu secara langsung? mengingat keadaan kita sekarang yang seperti ini.. :")

Apakah itu pesan yang kau kirim ke mimpiku? Apakah kau benar-benar mengirimkan bayangmu ke sini?
Dan mungkinkah ini adalah perumpamaan bahwa belumlah dulu kubuka pintu mimpiku untuk yang lain..

 Ah..
Selamat berpuasa untukmu yang dimuliakan Allah..
dan Inshaallah aku juga menjalankan ibadah ini dan sholat ied adha besok..
Tapi mungkin tidak di Malioboro..
Ingatkah kau tentang sekolah ibuku yang kerap kali digunakan untuk sholat ied kawan-kawan Muhammadiyah?

Yah mungkin aku akan berada di sana saja..
 Sampai jumpa. Kuharap pertemuan kita selanjutnya.. di tempat yang lebih nyaman untuk sekedar bercanda :)

Read more


to trust you fully

===============Previously============



An enormous mistake I have ever made: to trust you fully.



===============Currently===========
Question arises: Why is it wrong to trust people fully?

No. No. No.
 It is by no means wrong to trust people fully.
You can do that if you'd like.

But notice. When you trust people fully, you don't give a thing of what they'll do or behave. You tend to leave them alone. Whether they make mistakes or not, you don't care..Because you just believe them.

 Quite clear now?

 The opposite way, when you trust people not fully, it doesn't mean that you suspect them either.
It means.. 
You give them opportunities to show you their capabilities.
You give them time (are people able to give time anyway?) to perform something.
You let them to prove something first ...

before finally you can appreciate what they do, say, or act.
That way, they will feel more honored since they are trusted to carry heavy responsibilities..

And I just trusted you fully.. so that I never saw your effort to perform things..
your effort to explain to me and many things..
I just wanted you to tell me the result.. I should have listened to the details.
 

Read more


Not the one (and the only)

I love you 
just that simple
Yet I learn that
I'm not the only one..

Yet I know
Your tears fell for someone else..
And now I realize
I'm the only one
who waits for someone with a heart which turns into two
one for me
and the rest for the other...

I'm the only one..
who  always thinks 
there are two moons each night
in every our meeting
and I'm the only one
who knows the ending of this story..

 In the bottom of the depth of this heart
?x?

Read more


Something interesting, something hurting

So far I only see and hear what you want me to see and hear...
Recently, I found something hidden,yet seen..
I've been prepared for this anyway..
I always thought that it would happen
and now it does..
something interesting, yet hurting..

To my surprise..
I still can't accept it..
in one side, I must anyway..
As I learn from this..
I pick pieces of a heart of mine..
As I learn from this..
I really wish we can talk eyes to eyes, heart to heart..
and see.. I never suspect you without any evidence..
Thank you anyway..
Let's find some other day..
 

Read more


A Past Temptation

Sitting in the yard of the rektorat with a man discussing something, suddenly my sight was diverted.
I tried so hard to ignore it, but my eyes kept moving and watching over where that object was passing by intensively..

In a short period of time, I took control again of my eyes and mind to focus on what I was discussing with that man. It seemed he didn't know that I was away for a moment.

About that object? Hmm.. Let me say it in details.

I saw a girl in pink shutting her mouth using her left hand as if as she tried not to laugh because of something (seeing me and him probably?) and cover it, walking along the road to the south from the west way of the rektorat crossing motorcycles parked there and trees until I couldn't see her clearly any more.

The most normal action is:

asking, "Was it you?"

but I didn't do that..
In the first place that idea came up: I guessed it was really you since I  learn that every Sunday you go back to this place.


Though it was.. It doesn't make any difference now :")
Thanks for appearing before me even if you do it in different forms : you come in different persons, in shadows depicting you, in dreams, etc. 

Now I learn something.. I am trapped..
in a thought of us.. in an idea of getting escape.. in a world of us..
and that is probably why I'm into you..

Like I've ever said to you..
 I love you still and I love you will.. :)

 

Read more


I know some, you know more and better, Allah knows best

Apart from what is happening now.
I  often say it in my prayers..
"O Allah almighty, take care of her and me and send your angels to protect us
from the danger and every bad thing..
strengthen our wills, bless our action, give us Your mercy..
cause I love her still and I love her will..

O Allah, I do hope you'll get us together again
'cause we separated because of You,,
I also pray : we meet again also because of You,,
Many said we push our hearts too much,,
but I always believe what she said:
"we're obeying Your commandments,,"

and if this is the best for us,,
let it be,,
The pain I feel, the longing I hide,
the worry I keep are uncountably better than..
having fun today or a couple days (let's say) and later being punished 
inside Your hell a couple centuries (or more?)

a quote from a friend modified a little by me

"Melanggar aturan agama...
sakit nya tuh di akhirat"

 
 

Read more

Diberdayakan oleh Blogger.

Anda Pengunjung ke

Popular Posts

Kawan-kawan dari Blog ini

Web hosting for webmasters